Salah satu bentuk ‘pembakuan’ yang problematis
adalah kehadiran tokoh Kelana Sewandana sebagai bagian yang tak
terpisahkan dalam pertunjukan Reog Ponorogo. Pertunjukan reog di
desa-desa seringkali tidak menampilkan peran Kelana Sewandana, bahkan
banyak kelompok reyog di wilayah Kabupaten Ponorogo tidak memiliki
pemain pemeran tokoh ini. Hasil wawancara dengan sejumlah praktisi
kesenian rakyat ini mengesankan bahwa sebenarnya bagi kebanyakan
kelompok reyog setempat kehadiran Kelana Sewandana bukan keharusan.
Seorang mantan aktivis reog di desa Sawoo berusia sekitar 70 tahun
menuturkan bahwa pada tahun 1950-an kelompoknya kadang-kadang
menampilkan Kelana Sewandana. Dituturkan pula bahwa pemeran Kelana
Sewandana tersebut sering menyisipkan tembang jenis palaran dalam
pementasan. Langkanya pemeran Kelana Sewandana sering dijelaskan
sebagai akibat dari tuntutan teknis tari yang tinggi bagi pemeran tokoh
ini. Asumsi semacam ini diperkuat oleh kenyataan bahwa sebagian besar
pemeran Kelana Sewandana yang ada di wilayah Kabupaten Ponorogo adalah
mereka yang pernah mengenyam pendidikan tari; baik di pendidikan formal
maupun di sanggar-sanggar tari di dalam atau luar kabupaten. meskipun terdapat semakin banyak orang yang dapat memerankan
Kelana Sewandana, kemunculan tokoh raja Bantarangin ini dalam
pertunjukan di desa-desa pun masih relatif jarang. Pengamatan di
lapangan menunjukkan adanya kecenderungan penari pemeran Kelana
Sewandana hanya muncul secara terbatas pada acara-acara tanggapan yang
bersifat formal, misalnya pada acara perkawinan. Pada acara-acara yang
bersifat komunal dan kurang formal, misalnya bersih desa atau kaulan
nadar, umumnya tokoh raja Bantarangin ini tidak ditampilkan.
ini adalah penari prabu kelana sewandana SMBU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar